Selasa, 07 November 2017



PERBANDINGAN 2 NOVEL


MY IDIOT BROTHER




IDENTITAS BUKU :

Judul                           : My Idiot Brother
Penulis                                    : Agnes Davonar
Penerbit                     : Inandra Published
Tempat Terbit                        : Jalan TPI 2 nomor 6, Jakarta
Tahun Terbit               : November 2011
Halaman Buku                      : 267 halaman
ISBN                            : 978-979-18346-8-1

SINOPSIS BUKU :
Angel, gadis remaja berumur 13 tahun tidak pernah bisa menerima keadaan kakaknya, Hendra, yang terlahir dengan keterbelakangan mental. Walaupun Angel begitu malu dan membencinya, Hendra tidak pernah bersedih hati. Ia tetap setia memberikan kasih saying seorag kakak kepada adiknya.
Karena memiliki kakak yang sering diejek oleh teman-temannya idiot, Angel selalu mendapatkan hinaan dan cacian teman-teman sekolahnya, terutama Agnes yang merasa Angel sebagai ancaman untuk dia mendapatkan hati Aji.
Suatu hari, Angel mengalami sebuah kecelakaan dimana tak ada seorang pun yang mampu menyelamatkan dirinya selain Hendra. Demi cintanya kepada sang adik, Hendra rela mengorbankan apapun termasuk nyawanya sendiri untuk Angel.   


A. UNSUR INTRINSIK
1.      Tema : Kekeluargaan.
Angel, Seorang gadis berusia 13 tahun yang tidak bisa menerima keadaan kakaknya , Hendra, yang mengalami cacat mental. Walaupun begitu, hendra tidak membenci dan tetap menyayangi Angel.

2.      Alur : Maju
Dibuktikan oleh beberapa tahapan sebagai berikut :
A.    Pengenalan :
 Angel seorang gadis yang cantik tapi selalu malu terhadap Hendra karena kakaknya itu mengalami cacat mental

B.      Pemunculan konflik :
semenjak Angel memaski sekolahnya, ia selalu dicaci maki oleh Agnes dan kawan-kawan yang mengetahui keadaan Hendra, Kakaknya sehingga seluruh kelas tau keadaann kakaknya dan ikut menghina dirinya.

C.    Konflik memuncak :
Aji, seorang murid baru yang tampan, pintar bermain basket ( sama dengan Angel ) datang ke sekolah. Aji mulai tertarik dengan Angel karena memiliki hobi yang sama. Sementara Agnes dan teman-temannya merasa tidak terima dan mengancam Angle akan memberi tahu keadaan Hendra kepada Aji.

D.     Klimaks :
Aji mengundang Angel ke pesta ulang tahunnya. Angel ingin membelikan hadiah untuk Aji tapi ia tidak mempunyai uang karena ia tidak pernah menabung uang jajannya. Hendra memberikan seluruh uang tabungannya untuk Angel. Akhirnya Angel membelikan sebuah helm kerem untuk Aji. Saat ulang tahun Aji, Angel lupa membawa hadiahnya. Ia berniat untuk kembali dan mengambil hadiah untuk Aji, tapi Hendra sudah lebih dulu mengantarkannya. Karena malu Aji mengetahui bahwa kakaknya cacat mental, Angel berlari dan akhirnya tertabrak oleh sebuah mobil.

E.      Penyelesaian :
Angel dilarikan ke rumah sakit dan kehilangan banyak dara sementara stok kantung darah sudah habis. Hendra mendonorkan darahnya walau itu membahayakan hidupnya. Ia ingat bahwa besok adalah hari ulang tahun adiknya. Ia membuat surat kepada adiknya karena ia tidak mempunyai uang untuk membelikan boneka babi yang biasa dibelinya saat Angel ulang tahun, saat ingin menyimpan surat itu, kepala Hendra terbentur dan tak lama kemudian ia meninggal. Angel menemukan surat dari kakaknya dan menangis.ia menyadari bahwa Hendra adalah segalanya. Hendra mungkin bukan kakak yang sempurna, tapi ia adala kakak terbaik yang diciptakan tuhan untuk ada di sampingya sebagai malaikat yang mencintai dan menyelamatkan hidup Angel.

3.      Penokohan :
-          Angel :
Kasar : Hal 9, “Dasar idiot! Loe bisa baca gak sih tulisan ini?”
Tidak sopan : Hal 78, Aku menendang pundak kakakku yang sedang tertidur pulas, lalu ia terbangun
-          Hendra :
Perhatian : Hal 9, “ Adik sudah bangun? Ini susu.. minum..”
Pengertian : Hal 108, “ Adik… Butuh uang ?”
Rela berkorban : Hal 133, “ Ambil darah ini untuk adik …. Ambil… kakak tidak ingin adik mati.. “
-          Ibu Angel :
Baik hati : Hal 115, “ Sejak kapan ibu gak kasih kamu uang saku kalu kamu minta ?“
Perhatian : Hal 57, “ kemana aja kamu tadi, kok dijemput di sekolah gak ada?”
-          Agnes :
Jahil : Hal 99, “ kata agnes sambil menarik tangan aji yang membuat air minum itu tumpah ke pakaianku”
Cari perhatian : Hal 64, “ Hai cowok, maaf boleh kenalan ?”
-          Aji :
Perhatian: Hal 99,
“Aji mengambil sapu tangannya lalu membersihkan wajah dan pakaianku yang basah”
Pengertian : Hal 139, “ Gak gitu angel. Tuhan telah atur semua dengan kehendaknya “

4.      Latar:

A.    Latar tempat :

-          Cafe hijau : Hal 122, “ Akhirnya ia menemukan café hijau “
-          Ambulan : Hal 127, “ Ambulan itu menuju rumah sakit terdekat”
-          Rumah sakit : Hal 127, “ Disebuah ruangan bertuliskan Unit Gawat Darurat “

B.      Latar suasana
-          Tegang : Hal 125, “ Dia siapa? Bener kakak loe? Tanya aji padaku “
-          Sedih : Hal 129, “ ibu hanya menangis tak bisa menjawab apapun pertanyaan kakak yang berulang-ulang.”
-          Senang : Hal 68, “ Aku jadi semangat ke sekolah disbanding ketika aji tidak ada di sekolahku

C.    Latar waktu :
-          Pagi hari : Hal 82, “ Suatu pagi seminggu setelah ayah kembali ke laut lepas “
-          Sore hari : Hal 118, “ jam sudah menunjukan pukul 16.35 WIB “

5.      Sudut pandang :
Sebagai orang pertama : Hal 8, “ di depan pintu kamarku “

6.      Amanat :

Terkadang kita tidak akan menyadari kehilangan sebelum benar-benar terjadi. seorang kakak mungkin tidak sempurna, tapi ia adala kakak terbaik yang diciptakan tuhan untuk ada di samping kita sebagai malaikat yang mencintai kita.

7.      Gaya bahasa :
Hiperbola : Hal 62, “ Aku masuk kelas dengan berbunga-bunga”

B. UNSUR EKSTRINSIK
1. Nilai Agama : Kita tidak boleh menyalahkan tuhan atas apa yang terjadi
2. Nilai moral : Kita tidak boleh membenci keluarga sendiri, jangan mengejek orang lain.
3. Nilai Sosial : kita harus menghargai dan menerima kekurangan orang lain
4. Nilai Budaya : Budaya anak Jakarta merayakan acara ulang tahunnya di sebuah kafe.

KEKURANGAN :  pada novel tersebut, bahasanya yg digunakan kurang cocok, banyak kesalah dalam ketikan

KELEBIHAN : amanatnya bagus untuk dicontohkan pada kehidupan sehari-hari, novel ini memiliki alur yg menarik tidak bikin bosan bagi pembacanya


BIOGRAFI PENULIS

Agnes Davonar adalah nama pena dari dua orang kakak beradik yang sukses menggapai puncak keemasan lewat dunia sastra. Karya-karya mereka yang fenomenal dan selalu dijadikan best-seller adalah bukti dari popularitasnya. Bernama asli Agnes Li, perempuan yang lahir di Jakarta 8 Oktober 1990 dan Teddy Li, sang adik laki-laki yang lahir di Jakarta,7 Agustus 1992 merupakan anak dari pasangan mendiang Ng Bui Cui dan Bong Nien Chin. Agnes dan Teddy tinggal bersama lima saudaranya. Mereka sudah hidup dalam ruang lingkup sastra, budaya, dan seni. Ayah mereka yang dulu berprofesi sebagai penulis kaligrafi Cina adalah tulang punggung satu-satunya yang menopang Agnes dan keluarganya. Namun, miris, maut harus memisahkan ayahanda tercinta dari mereka karena sang ayah menderita kanker. Ekonomi keluarga mereka pun merosot. Kemahiran sang ayah menulis kaligrafi Cina ternyata tak menurun pada anak-anaknya, sehingga tiada yang bisa mewarisi usaha ayahnya. Untuk dapat terus bertahan hidup di tengah perekonomian yang merosot, sang ibu akhirnya berusaha menjajahkan kue. Agnes dan Teddy pun juga sudah biasa mengantarkan kue untuk dijajahkan sebelum mereka berangkat sekolah. Keadaan ini pulalah yang membuat Agnes yang dulu berkuliah di Universitas Bina Nusantara jurusan Sastra Cina berhenti dari bangku kuliahnya lantara biaya kuliah yang mahal.
Karena tak kuasa terus hidup dalam keadaan pas-pasan, sang Ibu kemudian memutuskan untuk menjadi Tenaga Kerja Wanita (TKW) di Taiwan. Agnes dan adiknya pun harus merelakan niat ibunya untuk merantau di Taiwan. Tiap bulannya, sang ibu selalu mengirimkan uang yang bisa digunakan oleh Agnes dan adiknya untuk kebutuhan sehari-hari. Agnes yang ketika itu putus kuliah, dan Teddy yang kala itu masih duduk di bangku SMA tak mau tinggal diam dan hanya menunggu uang dikirim oleh ibunya. Lantas, mereka mencoba mencari pekerjaan. Dan lewat dunia sastralah mereka menemukan jalan terangnya. Mereka mulai menulis novel dan menawarkan naskahnya kepada para penerbit guna mendapatkan penghasilan tambahan. Namun, begitu miris rasanya, tulisan mereka ditolak mentah-mentah oleh para penerbit. Tentu kegagalan ini membuahkan rasa kekecewaan yang mendalam bagi mereka berdua. Mereka berdua kemudian berinisiatif menuliskan cerita-cerita mereka di Friendster sebagai akun sejaring sosial yang sedang nge-trend kala itu pada tahun 2007.

 “ BIRU LANGIT CINTA “



IDENTITAS BUKU :
1.      Judul buku                 : Biru langit cinta
2.      Pengarang                : Eko Hartono
3.      Penerbit                     : Zettu
4.      Jumlah halaman      : 281 Halaman
5.      Tahun terbit               : 2014
6.      Ukuran                        : 13 x 19 cm

SINOPSIS BUKU :
            Arin seorang gadis yang bekerja sebagai guide. Sahabatnya ira yang menyuruhnya untuk menggantikan tugasnya di Bandung yang akhirnya mempertemukannya dengan sosok bule idamannya bernama sam. Setelah kepergian sam kembali ke negaranya keluarganya menjodohkannya dengan seorang pria bernama setyo. Setyo sosok yang baik dan sholeh dan bisa dibilang sebagai suami idaman. Tapi cinta tak pernah bisa dipaksa, arin masih saja mencintai sam meski adanya perjodohan itu.
            Waktu terus berjalan, harapan arin untuk mendapat kabar dari sam tak pernah hilang. Ia tetap menunggu meski tak pernah kunjung datang. Disisi lain keluarganya terus membujuknya untuk menerima setyo. Kebingungan menghampiri perasaan arin, Setyo benar-benar menunjukan keseriusannya terhadap arin, dan mulai itulah perasaan arin terhadap setyo mulai terbuka, ia mulai merasa akan memulai harapan baru bersama setyo.
            Setelah perasaan arin mulai terbuka untuk setyo, sam kembali. Arin sangat merasa kebingungan, sam datang dengan keadaan muallaf dan siap untuk menikahi arin. Lalu kepada siapakah arin melabuhkan cintanya?



A.   Unsur Intrinsik :

1.      Tema : Percintaan
Terdapat di halaman 77, “ Ia seperti kehilangan semangat hidup. Mau kerja malas, mau apa apa malas. Perginya sam seakan membawa sebagian dari dirinya.”
2.      Alur     : Maju
            Dibuktikan oleh beberapa tahapan sebagai berikut :
A.    Awal cerita
Di kota inilah Arin melabuhkan impian dan cita-citanya. Bukan Jakarta atau Surabaya, kota metropolitan yang sering dijadikan tujuan bagi anak muda meraih mimpi dan kesuksesan. Arin lebih suka kota Yogya.
B.      Timbul Konflik
Awal adaya konflik ketika sam pergi dan tidak memberi kabar apapun terhadap Arin. Arin yang terus menunggu tanpa menghasilkan apa-apa. Sosok pria baru bernama setyo pun datang untuk mengisi hati Arin yang sedang terluka.
C.    Puncak konflik
Sam datang kembali. Membuat Arin kebingungan apa yang harus dia lakukan karna disisi lain ia telah membuka hatinya untuk setyo tapi disisi lain ia juga masih mengharapkan sam.
D.     Penyelesaian konflik
Akhirnya dengan shalat istikharah yang dilakukan Arin membuat arin yakin akan keputusannya. Ia pun akhirnya meninggalkan setyo dan kembali pada sam.
3.      Latar
A.    Latar tempat :
-          Kosan
Hal 3, “ sorri, aku baru saja nyampe di kos. Ada apa? “
-          Kamar
Hal 114, “ Ia tersadar dari lamunan ketika pintu kamarnya diketuk ibu “
-          Bukit kecil
Hal 150, “ Bukit kecil yang tak punya nama ini menghadirkan pemandangan elok di sekitarnya “


B.      Latar waktu :
-          Siang hari
Hal 12, “ untunglah, suasana panas ini tak berlangsung lama “
-          Malam hari
Hal 19, “ Suasana ruang klab malam yang hingar bingar dengan musik hip hop terasa memekakkan telinga. “
-          Pagi hari
Hal 128, “ Aku sedang menikmati udara pagi “

C.    Latar suasana
-          Tegang
Hal 21, “ Wajah arin terkesiap pucat, dia bisa membaca niat buruk tigak cowok berundal ini”
-          Bingung
Hal 213, “ kabar tentang sam tadi membuat Arin kembali dibelit kebimbangan “
-          Bahagia
Hal 267, “ Arin memejamkan matanya, merasakan kebahagiaan mengalir dalam hatinya.”
4.      Sudut Pandang
-          Orang ke 3 :
Hal 23, Ketiga begundal itu menyerettubuh Arin untuk dimasukan kedalam mobil.
5.      Tokoh dan Penokohan :
-          Arin :
Baik ( Hal 10, Arin berhenti sejenak, dia mikir, kayanya gaenak kalau mengatakan yang sebenarnya)
-          Ira :
Setia kawan ( Hal 73, Ditemani oleh ira,Arin segera meluncur ke apartemen sam)
Perhatian ( Hal 68, “Kenapa mesti malu? Kita ini seperti siapa saja,, ayo dong cerita”)
-          Sam
Penolong ( Hal 23, Sang pahlawan menghampiri arin yang masih terduduk di atas trotoar”
Romantis ( Hal 277, “ Aku sangat mencintaimu, I love you so much”)
-          Setyo
Pengertian ( Hal 262, “ Apapun pilihanmu, itulah yang terbaik bagi hidupmu “)
Baik ( Hal 264, “ soal barang-barang yang pernah kuberikan kepadamu, tak perlu kamu mengembalikannya”)
-          Mbak yayuk
Pengertian ( Hal 141, “Tapi begitulah yang kamu rasakan bukan ?”)
6.      Amanat
            Cinta memang salah satu misteri terbesar dalam hidup manusia. Banyak orang bahagia karena cinta. Banyak orang yang sengsara karena cinta. Tapi cinta seperti apa yang dimaksud? Cinta kepada Allah adalah cinta terbesar dalam kehidupan ini. Jika kita mencari jodoh, pilihlah ia karena agamanya dan karena keimanannya karena itulah yang akan bisa mengantarkan kamu ke dalam syurga-Nya.

7.      Gaya Bahasa
            Hiperbola : Sejak pengakuan Sam yang telah meruntuhkan segala harapan dalam hatinya.


B.    UNSUR EKSTRINSIK
Nilai Agama        : Hal 133, “ Padahal tujuan perkawinan dalam islam memiliki dua dimensi sekaligus,   yakni dunia dan akhirat”
Nilai Budaya        : Hal 49, “ Dia mengucap salam lebih dulu, dengan bahasa jawa pula. Kula nuwun… begitu ucapannya fasih “




BIOGRAFI PENGARANG 

Eko Nugroho (lahir di Yogyakarta, 1977), adalah salah satu seniman muda Indonesia yang paling menonjol terutama dengan pencapaiannya selama satu dekade terakhir. Selain aktif sebagai seniman individual sejak mahasiswa di ISI, Eko awalnya dikenal sebagai penggiat komunitas komik ‘Daging Tumbuh’, terutama dengan menerbitkan sendiri komik berjudul sama secara reguler dengan semangat Do-It-Yourself, mengumpulkan pembuat komik independen dari berbagai tempat dan mencetaknya dengan medium fotokopi. Dari sini ia menjadi semacam ‘cult icon’ di kalangan seniman muda ‘indie’ Yogyakarta, Bandung dan Jakarta.
Perhatian lebih luas terhadap karya Eko adalah ketika tahun 2002, dia berpameran tunggal dengan tajuk "Bercerobong" di Cemeti Art House, Yogyakarta. Karya-karyanya dianggap menyuntikkan warna segar bagi seni rupa di Indonesia. Terutama dengan gaya gambarnya yang khas, komikal, surreal dan dicampur dengan teks campursari berbagai bahasa dengan pemaknaan yang absurd namun satirik dan jenial. melalui berbagai medium mulai dari komik, mural, performance, animasi dan juga materi yang menjadi salah satu ciri khasnya: bordir.
Sejak itu, Eko seperti tak terbendung. Eko tak habis-habis berkarya dan diundang residensi di berbagai negara di Asia, Australia, Eropa, dan Amerika Serikat, beberapa di antaranya adalah 5th Asia-Pacific Triennial of Contemporary Art at Queensland Art Gallery, Australia (2006); "Wind From the East" di Kiasma Museum of Contemporary Art in Helsinki, Finland (2007); “Something From Nothing” dengan kurator Dan Cameron di the Contemporary Art Center (CAC), New Orleans, AS (2008) dan Busan Biennale, “Expenditure” (2008).
 Eko, seperti yang diuraikan oleh Kurator Adeline Ooi adalah kebebasan tanpa rasa beban dalam memandang kategori dan pengkotakan seni rupa.  Ia selalu melakukan pendekatan berkarya dengan keluguan yang ceria dan lugas, tanpa terhambat teori, tradisi atau konvensi. Ini sangat tampak dengan bahan-bahan ‘remeh’ yang ia pakai seperti bordir, stiker, karpet dan sebagainya, juga keliarannya dalam menuangkan bentuk visual seperti imaji-imaji komikal yang bercampur dengan unsure klasik seperti patung dan wayang. Eko bermain-main antara ‘high art’ dengan budaya jalanan atau populer, dan dengan itu ia mencoba mencurahkan perspektifnya yang unik sebagai seniman yang hampir selalu diinspirasi kehidupan sehari-harinya di Yogyakarta.
Seperti bagaimana ia terinspirasi untuk menggunakan bordir, papar Eko, “Tahun 1999 dulu banyak konflik sosial timbul dan memunculkan geng-geng anak muda, dan salah satu ciri khas mereka adalah selalu memakai emblem bordir yang disulamkan di punggung jaket mereka, sebagai identitas. Mereka menginspirasi saya bagaimana emblem bordir menjadi penanda pemberontakan terhadap sistem. Lalu saya menemukan sebuah desa di Tasikmalaya yang terkenal dengan para pembordirnya, maka saya belajar membordir disitu.”
Pengamatan dan keterlibatannya dengan masyarakat sekitarnya juga menjadi basis utama dari premis berkaryanya secara keseluruhan, seperti pada pameran tunggalnya "Multicrisis is Delicious" di Galeri Semarang, 2008, yang merefleksikan kontradiksi kultural bangsa Indonesia. Untuk membuat karya-karya di pameran itu, Eko menyempatkan diri berbaur dengan masyarakat setempat. Dia ikut jagongan di gardu ronda, nongkrong bersama petani di sawah, arisan, atau menghadiri hajatan di kampung. Persoalan-persoalan itu lantas disaring lagi untuk dikentalkan jadi gagasan karya. Pameran itu hasil pengamatan Eko akan budaya yang merasuki warga kampung. Ada budaya maya di televisi yang gemerlap dan materialis, budaya agraris di sawah yang pahit, budaya kerja buruh di pabrik yang keras, budaya birokrasi yang artifisial, atau budaya kebatinan Jawa yang sublim. "Ketika semua budaya itu berbaur, lahirlah macam-macam kontradiksi. Ini inspirasi yang menarik," katanya.
Pendekatan yang membumi dan sederhana itu memunculkan karya-karya yang bisa membuat orang tersenyum, tersentil dan kadang juga terbingungkan oleh berbagai absurditas dan deformitas ala Eko - yang menariknya: banyak orang dari berbagai latar belakang merasa bisa dengan mudah merasa dekat dengan karyanya. Strategi seperti itu jugalah yang selalu ia terapkan ketika melakukan proyek seni dan residensi di luar negeri. Seperti partisipasinya di  Veduta Project, Lyon Biennale IX, “Spectacle of the Everyday” yang dikurasi Hou Hanru (2009), berbentuk mural dan pentas performance Wayang kontemporer dengan komunitas pekerja seni dan kaum imigran di Lyon. Juga pada saat residensi dengan SAM Art Projects Paris yang dikuratori antara lain oleh Hans-Ulrich Orbist, karya-karya dibuat Eko dari berinteraksi dengan masyarakat Paris sambil membuat snapshot dengan bersepeda keliling kota itu.
Ujar Eko, “Mengkomunikasikan pengalaman saya ke audiens dari latar belakang geografis dan budaya yang berbeda-beda adalah aspek paling penting dari karya saya. Saya selalu tertarik dengan interaksi antara masyarakat sehari-hari dengan seni saya. Respon mereka tak pernah sama, dan sangat berbeda dari respon pengunjung galeri atau museum. Saya penasaran dengan apa yang mereka rasakan dan ‘seni’ seperti apa yang mereka lihat. Ini selalu saya libatkan danmasukan sebagai inspirasi saya dalam berkarya, bahkan juga perkembangan personal saya sendiri.”
Setahun terakhir ini, 2011-2012 jadwal Eko padat berkeliling dunia dengan berpartisipasi di pameran kolektif ‘Tranfigurations’ di Espace Culturel Louis Vuitton, Paris, dan berturut-turut pameran tunggal di Art Gallery of South Australia, ‘The Eko Chamber’,  “Témoin Hybride (Hybrid Witness)” di Museum of Modern Art Paris, 2012 dan puncaknya di Arndt Gallery, Berlin, ‘Threat With a Flavor’.

Tugas B.Indonesia:
- Dwi Rahmawati
- Nudia Akmila 
- Hilmi Fatussabil
- Abdul Fatah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar